Cerita Jurnalis Amatir di Kampus Kompas TV

Jurnalis bukanlah hobi saya. Eh, saya nggak tahu apakah itu hobi saya atau tidak. Karena saya sebenarnya suka dunia tersebut, namun saya tidak terlalu menekuninya. Apakah itu bisa disebut hobi ❓ Entahlah. Mungkin itulah salah satu di antara sekian banyak kekurangan saya, yaitu tidak menekuni hal yang saya sukai. Alhasil, tak ada hasil gemilang yang saya dapatkan. Jangan dicontoh ya!

Bicara soal jurnalis, saya tak banyak tahu meskipun saya suka. Namun saya mendapat sedikit nikmat sekaligus pencerahan dari para senior jurnalis Indonesia. Tepatnya dalam acara Kampus Kompas TV yang beberapa hari lalu, tepatnya 14-15 April 2016, diadakan di kampus saya.

Karena saya tergabung dalam salah satu media kampus, saya diberi amanah untuk mewawancarai salah seorang tokoh yang menjadi pembicara dalam Kampus Kompas TV tersebut, yaitu Ibu Tri Risma (Walikota Surabaya). Saya pun segera mencari tim untuk melaksanakan tugas tersebut, karena nggak mungkin saya sendirian. Setelah tim terbentuk, si presenter saya tugaskan untuk riset terlebih dahulu tentang narasumber (Bu Risma). Riset berjalan lancar, pertanyaan demi pertanyaan pun juga sudah siap untuk dipertanyakan.

Di hari H, tepatnya tangal 15 April 2016 dimana Bu Risma hadir untuk menjadi narasumber Talkshow Rosi, tentunya saya beserta tim stand-by di Grha 10 Nopember, hanya untuk berjaga-jaga tidak ditinggal pergi lagi. Sebelumnya, ada tim lain yang ditugaskan untuk mewawancara Tulus, penyanyi yang sedang naik daun itu, di hari sebelumnya. Namun sangat disayangkan, saat Tulus selesai nyanyi di panggung Grha, dia langsung saja cabut sehingga tim Tulus nggak berhasil mendapatkan kesempatan wawancara ekslusif bersama Tulus.

Kebetulan, di hari dimana Bu Risma menjadi narasumber, Surabaya diguyur hujan semenjak pukul 1 dini hari hingga 6 pagi. Dilanjut dengan hujan-reda-hujan-reda-nya sampai siang hari. Hal ini menyebabkan ada beberapa titik di Surabaya yang macet parah karena banjir. Sebagai Walikota, beliau pasti sangat khawatir. Hingga sesaat sebelum talkshow, beliau tetap memantau perkembangan titik banjir tersebut dengan HT di sakunya. Im speechless, walaupun itu hal yang wajar dan seharusnya dilakukan oleh seorang walikota yang benar.

Melihat kesibukan beliau, ditambah bolak-balik minta tolong ke kru Kompas untuk wawancara Bu Risma namun mereka tidak bisa menjanjikannya karena emang beliaunya sibuk, akhirnya saya dan tim merelakan untuk tidak mewawancarai beliau 😦 Presenter saya sedih dan sedikit kecewa sebenarnya, tapi ya gimana lagi, semoga di lain waktu bisa kesampaian wawancara Bu Risma, ya Nak πŸ˜†

Inilah dunia, dimana harapan dan kenyataan kadang tak sesuai. Meski begitu, pastilah ada nikmat di setiap ketidaksesuaian kenyataan dengan harapan yang kita pegang. Dari sini saya mendapat sebuah pelajaran penting tentang keikhlasan. Pertama, keikhlasan dalam mengemban amanah seorang walikota dan kedua, keikhlasan untuk tak memaksakan mewawancarai seorang yang benar-benar sedang tak bisa diwawancara demi tugas yang diembannya, meskipun nantinya jika beritaΒ  wawancara ekslusif dengan Bu Risma berhasil terbit di akun Youtube media kampus mungkin akan menarik ratusan viewer. Apalah arti ratusan bahkan ribuan viewer jika mengesampingkan tujuan mulia seorang walikota untuk kotanya?

Ew, ternyata sudah cukup banyak tulisan untukΒ post ini πŸ˜€ Jadi untuk cerita selanjutnya tentang Jurnalis Amatir di Kampus Kompas TV lebih baik saya tulis di post selanjutnya. Mohon maaf ya, hihi. Jadi sebenarnya pencerahan dari jurnalis senior yang saya sebutkan di paragraf atas tadi belum tertulis di sini. Tunggu aja ya di post berikutnya. *ini sok-sokan ada yang baca aja πŸ˜†

Btw, semangat untuk Bu Risma, ibunya kota kelahiran saya ❀

Advertisements

4 thoughts on “Cerita Jurnalis Amatir di Kampus Kompas TV

  1. rouzidaz says:

    Masukan del di awal-awal cerita kamu. Aku baca buku by Erick Namara (Bakat + Usaha = Sukses! )
    Sebenernya hampir sama kayak kamu sih, aku juga nggak tau apa kegemaranku tapi sebenarnya suka banget melakukannya, nah sayangnya juga nggak di tekuni.
    Dalam buku itu, memang beberapa orang tidak mengetahui bahkan tidak mau tahu bakatnya, toh pun tau bakatnya tapi hanya sebagian yang menekuni bakatnya dan sukses. Nah yang memilih tidak menekuni bakatnya, memilih ya sudahlah jalani saja hidup ini.

    Tapi justru, dengan kita mengetahui bakat kita dan menekuninya, itu akan membawa pada kesuksesan.
    Contoh Lionel Messi. Dia suka banget kan main sepak bola, sampai akhirnya dia memutuskan menekuni bakatnya. Dan akhirnya sukses menjadi pemain sepak bola. Coba bayangkan kalo dia jadi karyawan, dimana dia nggak suka-suka amat sama bidang itu. Dan mungkin dia nggak akan sesukses sekarang.

    Sooo, kalo delin ada bakat jurnalis coba perlahan-lahan di tekuni deh. Siapa tau memang bidangnya. #Support #Delina #GO #GO #GO

    Like

    • delinarahayu says:

      Wah ririiin. Iya, rata-rata orang sukses kan yang emang suka dan menggeluti “bidangnya”. Kelemahanku itu aku terlalu fokus sama akademik. Dan juga susah buat fokus ke dua hal gitu rin. jadi ya terpaksa buat mengesampingkan hal itu rin :”
      Btw, Makasih nasihat dan supportnya :”3

      Ririn juga semangat yaa buat pendidikan dan bakatnya ❀

      Liked by 1 person

  2. Donte says:

    There is no understanding environmentalism without also understanding the function of religion as a means of infusing spirituality into the material.The vast majority of eninionmertalvsts just want clear air and water and a healthy climate. Pointing to the Voluntary Human Extinction Movement no more defines the environmental movement than pointing to the Flat Earth society defines physics.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s