Jalan-jalan ke Museum Kota Tua Jakarta

Museum Kota Tua

Saat sedang menjalani kerja praktik di Jakarta, saya dan Uci tidak banyak mengunjungi tempat-tempat di sana. Selain karena budget yang kurang mumpuni (apalagi karena di Jakarta kami tidak punya kendaraan pribadi), juga karena waktu yang tidak ada. Senin-Jumat kami habiskan waktu untuk tugas-tugas kerja praktik. Barulah pada Sabtu kami dapat memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan, sedangkan Minggu kami sempatkan untuk bermalas-malasan di kos karna besoknya sudah harus ngantor lagi. Meski begitu, kebanyakan tempat-tempat yang kami kunjungi tidak jauh-jauh dari kosan dan tempat-tempat tersebut kebanyakan adalah mall, seperti Ciputra World dan Kota Kasablanka (ya, kami sudah pernah ke sana). Baru setelah mendekati minggu akhir kerja praktik, kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke museum-museum di Jakarta. Kemudian kami memutuskan untuk mengunjungi daerah Taman Fatahillah, karena di situ ada tempat wisata Kota Tua dan banyak museum-museum di sekelilingnya.

Baca juga: Kegiatan Selama di Jakarta

Saat jalan-jalan ini kami tidak sendirian, kami ditemani oleh satu teman cowok, Cila (nama aslinya Caesar Gilang, lalu entah gimana jadi dipanggil Cila). Kami berangkat ke Taman Fatahillah dengan memanggil kendaraan online, yaitu Grab. Kami bukan pengguna baru pada aplikasi tersebut, namun pengalaman naik Grab waktu itu (saat pergi ke Taman Fatahillah) merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Mungkin kesalahan awal memang dari kami, yaitu salah memilih tempat tujuan. Ternyata Taman Fatahillah di Jakarta itu tidak satu tempatnya, dan kami memilih Taman Fatahillah yang salah. Namun kesalahan lain ada di drivernya, dan menurut kami sebagai penumpang hal tersebut sangat fatal.

Jadi ceritanya entah lagi di jalan mana (saya belum hafal dengan jalanan ibukota), si supir ini melanggar lalu lintas. Yang seharusnya tidak boleh untuk belok kiri melalui jalur yang sedang diambil, namun supir ini tetap belok kiri. Akhirnya dicegat deh oleh polisi. Nah singkat cerita, supir ini maksa untuk minta maaf, sedangkan pak polisi tidak mau memaafkan begitu saja. Kemudian supir ini dengan nekatnya langsung saja cabut dengan nge-gas super cepat. Saya dan Uci di dalam mobil sampai ketakutan, beda dengan Cila. Ternyata dia malah enak TIDUR dengan pulas 😐 KOK BISA-BISANYAAA!

(Ps. Ini salah satu pengalaman naik Grab yang tidak menyenangkan, namun tidak semua pengemudi Grab seperti itu ya! Jadi saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan Grab, hanya sharing pengalaman saja. Dan kejadian tersebut sudah Uci laporkan melalui CS pada aplikasi terkait)

Akhirnya setelah sampai pada Taman Fatahillah yang salah, kami turun dari mobil tersebut. Dan kami berjalan kaki untuk mencari angkutan umum yang menuju ke Terminal Blok M, agar kami bisa menaiki bis menuju ke Taman Fatahillah yang sebenarnya kami tuju.

Sesampainya di Taman Fatahillah yang kami tuju tersebut, waktu sudah meunjukkan sekitar jam 3 sore. Sedih banget mendapati semua museum sudah pada tutup. Namun kami tak patah semangat, karena di situ masih ada Kota Tua yang belum bubar. Akhirnya kami berjalan-jalan hingga menuju Kota Tua tersebut.

Numpang foto di Museum Bank Indonesia yang uda tutup

Konsep wisata di Kota Tua ini cukup sederhana. Dapat dibayangkan kita seperti jalan pada semacam gang (tapi cukup lebar gangnya) dengan bangunan-bangunan di kanan-kiri yang masih berkonsep jadul. Banyak sekali orang-orang yang berjalan-jalan di sini, mulai dari anak kecil hingga yang sudah kakek-nenek. Di pinggiran jalan pun juga banyak pedagang, mereka berjualan bermacam-macam hal, seperti lukisan, mainan anak-anak, makanan, minuman, dan yang lainnya. Berjalan di gang ini cukup menyenangkan, karena suasana di sini sangat jauh berbeda dengan suasana di tengah Kota Jakarta yang banyak dikelilingi asap kendaraan.

Saat sampai di ujung jalan, kita mendapati sebuah lapangan yang sangaaat luas. Dan ternyata di situ ada Museum Kota Tua yang masih BUKA. Langsung saja kami excited dan membeli tiket masuk (saat itu 2000 rupiah kalau tidak salah, dengan menunjukkan kartu mahasiswa). Walaupun sudah sore begini, ternyata museum ini masih ramai pengunjungnya.

Ada yang tau artinya apa?

Di dalam museum peninggalan zaman penjajahan Belanda ini, banyak sekali barang-barang peninggalan sejarahnya, seperti pada lantai bawah, ada barang-barang peninggalan VOC seperti patung, keramik, hingga batu-batuan yang ditemukan oleh arkeolog. Di lantai dua, terdapat peninggalan yang khas dengan bangsa Belanda, seperti furnitur dari kayu-kayuan, tempat makan (berupa meja panjaang), lemari, tempat tidur, lukisan, hingga jendela besar yang menghadap ke tanah lapang di luar.

Patung Pangeran Sungarasa Jayawikarta

Pakaian Eropa abad ke-16

This slideshow requires JavaScript.

Yang menarik dari museum ini adalah adanya ruang bawah tanah. Konon, ruangan ini merupakan tempat penjara bawah tanah yang digunakan untuk menahan para tahanan yang melawan penjajah Belanda. Saya mengunjungi penjara wanita. Dan ternyata benar yang dikatakan pada websitewebsite penulis yang pernah berkunjung juga ke sini, penjara ini berair di bawahnya, dan katanya air di situ tidak pernah surut. Konon, dulunya di penjara ini dihuni sekitar 40-50 orang yang dibiarkan begitu saja tanpa diberi makanan dan minuman, hingga ada yang meninggal di tempat. Jadinya sangat wajar bila banyak penulis atau traveler yang berkunjung ke sini akan merasakan hawa-hawa seram. Namun, jujur saat saya melihat penjara ini, saya tidak merasakan hawa-hawa seram seperti yang banyak dikatakan pada websitewebsite lainnya. Mungkin saya sendiri yang kurang PEKA *pardon me*

Penjara bawah tanah | kelihatan genangan airnya kan???

Setelah cukup lama berada di dalam museum, akhirnya kami sampai pada bagian belakang. Di sini halamannya juga cukup luas dan lebih bagus. Di sini kami beristirahat sejenak dan mengerjakan salat karena kebetulan ada musala di sini. Seusainya kami salat, kami (atau saya ya, wkwk) berfoto-foto terlebih dahulu karena ada sudut-sudut yang instagrammable di sini.

Berkunjung ke wisata Kota Tua di Jakarta merupakan pilihan yang tepat saat kita berada di Jakarta. Karena di sini, kita dapat terhindar dari macet dan asap kendaaran Jakarta. Di sini juga kita dapat melihat bagaimana peninggalan-peninggalan bangsa Belanda yang dulu menjajah wilayah Batavia. Jadi, selain dapat berlibur bersama keluarga atau teman, kita juga bisa belajar sejarah secara langsung dengan mengunjungi tempat ini. Selain ada museum, tanah lapang yang luas di depan museum juga sangat oke. Banyak sekali pengunjung bermain di sana. Bahkan ada tempat persewaan sepeda-cewek (yang ada tempat boncengannya) untuk dikendarai mengelilingi lapangan.

Sungguh menyenangkan. Saya sampai menyesal karna belum mengeksplor museum atau tempat-tempat lain di Jakarta. Semoga nanti ada rezeki lagi di sini (entah bekerja di Jakarta, atau hanya berkunjung ke sini, aamiin).

si petualang (Cila, Uci, dan Saya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s