Sakit di Lombok

Assalamualaikum.

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman kuliah memutuskan untuk ikut salah seorang teman (Oliv) yang akan pulang kampung ke Lombok. Tujuan kami adalah untuk berlibur menggunakan kesempatan yang ditawarkan Oliv untuk dapat menempati tempat tinggalnya selama kami di sana. Selain itu, keluarga Oliv juga tidak keberatan memberi kami makan. Pokoknya liburan ke Lombok kemarin benar-benar sponsored by Olivia’s Family (Papi Nizar, Mami Wiwik, dan Oliv).

Namun tak disangka, liburan saya kali ini sedikit terganggu akibat sakit yang tiba-tiba saya derita. Sebenarnya saya bukanlah orang yang mudah mabok, dimanapun itu. Kendaraan, laut, atau yang lainnya. Hanya saja saya memang sering merasa tiba-tiba pusing sehingga setiap kali liburan obat yang saya bawa hanya obat pereda pusing seperti Panadol dan Fresh Care untuk pertolongan pertama.

Insiden sakit ini berawal dari perjalanan wisata kami ke Air Terjun Gangga. Sesampai di tempat wisata, kami mendaki jalanan yang cukup menanjak untuk mencapai rumah pohon. Namun tiba-tiba saya merasakan pusing yang hebat sampai hampir pingsan. Kebetulan saat itu juga sedang diguyur hujan, jadi saya kurang kuat. Akhirnya teman-teman dan saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan L saya jadi merasa tidak enak karena belum sampai ke puncak (ke atas rumah pohon, kalau air terjunnya sudah sampai). Saat kami istirahat di Gazebo yang ada di sana, saya tak tahan juga dengan perut yang terus berkontraksi (kebelet). Saya kemudian memutuskan untuk izin turun lalu buang air besar.

Tak lama setelah saya kembali, kami meninggalkan tempat tersebut dan menuju ke pantai yang searah dengan jalan pulang. Selama perjalanan banyak sekali pemandangan yang sangaaaat indah, terlebih karena jalanannya berdekatan dengan pantai sehingga kita bisa melihat pemandangan pantai sambil berkendara. Selengkapnya tentang hal-hal indah di Lombok akan saya bahas di postingan terpisah, karena dalam post ini saya akan fokus selama saya sakit, wkwk.

Ketika di suatu tikungan dalam perjalanan, terdapat semacam tempat peristirahatan, namanya View Point Malimbu (honestly, saya kurang tau nama Malimbu itu sebenarnya apa (jadi sebenarnya bukan Malimbu), saya lupa, yang saya ingat saat saya check in di Path namanya Malimbu, πŸ˜† ) Di sini kami memuaskan diri untuk melihat pemandangan pantai dari tebing. Kami bahkan sempat berjalan hingga turun (masuk) ke dalam untuk mendapat view yang lebih bagus. Setelah berlama-lama foto-foto di sini, tiba-tiba hujan turun lagi. Saat lari ke atas, lagi-lagi saya diserang pusing yang hebat dan benar-benar rasanya hampir pingsan lagi 😦 Dan kali ini juga ingin muntah. Saat-saat kayak gini ini saya selalu langsung menjatuhkan diri ke manapun, untuk duduk dan mestabilkan kondisi. Setelah agak enakan, kami melanjutkan perjalanan ke pantai yang tadi sudah bisa kami lihat saat di view point.

Sesampainya di Pantai Nipah (ini benar namanya), perut saya berkontraksi hebat lagi. Akhirnya saya melipir ke toilet. Dan di pantai ini, saya dua kali ke toilet. Sedih sekali rasanya harus bolak balik ke toilet yang (maaf) kondisinya kurang bagus. Pintu tidak ada kuncinya, untung sepi dan ada ganjelan batu bata. Tapi meski begitu, pengganjal ini tidak bisa menutup pintu dengan rapat, jadi masih terbuka sedikit. Terus juga tidak ada lampunya jadi gelap bangeeet waktu pintu ditutup. Lalu di bak air, ternyata saya baru sadar kalau tidak ada kran air. Pantes aja soalnya tepat di luar toilet ini ada sumur, jadi kalau air habis harus ambil di sumur. Jadinya kurang nyaman banget, udah pintu tidak tertutup rapat plus harus hemat air. Tapi karena sudah kebelet, ya gimana lagi ya… dipaksa aja deh.

Setelah sedikit puas, saya tiduran di gazebo pinggir pantai sambil menunggu makanan yang dipesan oleh teman-teman saya datang. Saat makanan tiba, menunya terlihat enak banget 😦 ikan bakar yang terlihat menggoda, apalagi dimakan di pinggir pantai. Namun sayang sekali, karena perut dan kondisi tubuh masih tidak enak, saya tidak banyak memakan bagian saya. Mungkin saya hanya memakan 1/5 dari ikan bakar bagian saya, sisanya saya kasih ke teman saya.

Setelah dari Pantai Nipah, kami bertolak ke Pantai Senggigi untuk menanti sunset. Namun gagal, karena langit yang tertutup awan. Di sini perut saya memang masih berkontraksi, namun alhamdulillah saya masih bisa menahannya sampai pulang ke rumah. Nah saat sampai di rumah ini, sakit saya menjadi drama. Bolak balik saya ke toilet, nggak nafsu makan, kepala berat, dan lain-lain. Parahnya, saat malam hari saya sering terbangun untuk ke toilet akibat perut yang berkontraksi. Dari sini saya menyadari bahwa saya sedang terkena diare!

Hari berikutnya kami menuju ke Bukit Merese. Sebelum berangkat, mama saya dan mamanya Oliv menyuruh saya untuk membeli obat Imodium di Apotek. Namun karena masih terlalu pagi jadinya banyak yang masih tutup. Bahkan saat ada yang buka, apotek tersebut tidak menjual obatnya.

Sesampainya di Bukit Merese, yang namanya bukit, pasti jalanan menuju ke puncak akan menanjak. Dan sama seperti hari sebelumnya, saya jadi tidak kuat jalan menaiki bukit ini. Akhirnya saat di persimpangan saya segera beristirahat dan membiarkan teman-teman saya terus melanjutkan pendakian. Sebenarnya tidak terlalu curam, namun entah kenapa saya tidak kuat. Di tempat peristirahatan ini, saya akhirnya muntah-muntah tak lama setelah saya duduk. Jadi fix deh saya hanya menunggu di sini saja sampai semuanya selesai. Sedih sekali karena tidak bisa foto ala ala yang baguus.

Hanya bisa lihat dari sini hiks

Setelah dari Bukit Merese, kami ingin menuju ke Pantai Selong Belanak. Tapi ternyata masih sangat jauuuh, sedangkan kami harus segera pulang karena perjalanan pulang juga sangat jauh. Akhirnya kami membatalkan rencana ke Selong Belanak dan putar arah ke jalan pulang. Dalam perjalanan pulang, akhirnya kami menemukan apotek yang menjual Imodium, dan ternyata harganya mahal sekali *nangis* jadi saya hanya membeli dua pil saja.

Saat di rumah, perut saya memang belum sembuh benar. Meskipun malamnya saya tidak sering bangun seperti hari sebelumnya, namun pagi harinya saya langsung muntah hebat. Padahal hari tersebut rencana kami adalah ke Gili Trawangan πŸ˜₯ jadi dengan SANGAT BERAT HATI, saya memutuskan untuk istirahat di rumah 😦

Itu adalah pertama kalinya saya benar-benar sakit (dan sakit diare) saat liburan. Berikut adalah obat-obatan atau yang saya minum/pakai selama saya sakit di Lombok.

Imodium

Ini adalah pil kecil yang cukup ampuh untuk menghentikan diare. Namun saya pribadi baru merasakan efeknya setelah dua kali minum. Meskipun pil ini kecil, harganya lumayan lho. Satu pilnya sebesar Rp9.000,00 di Mataram, saya kurang tahu harga di Surabaya berapa. Namun ada juga pilihan obat lain untuk menghentikan diare seperti Diapet, New Diatab, dan lainnya karena obat juga kan cocok-cocokan kayak pasangan.

Salonpas Koyo + Minyak Kayu Putih

Ini sebenarnya hanya untuk mencegah saya agar tidak masuk angin. Caranya adalah dengan menempelkan salonpasnya di bagian pusar lalu menambahkan minyak kayu putih di perut dan sekitarnya dan beneer, saya lebih mendingan berkurang mualnya setelah menggunakan ini.

Antangin JRG

Kalau masuk angin rasanya kurang enakan kalau nggak minum tolak angin dan sejenisnya. Nah tapi karena harga Tolak Angin sedikit lebih mahal, Antangin JRG ini bisa menjadi alternatif.

Pocari Sweat

Saya memesan ini dan akhirnya dibelikan oleh Oliv dan keluarga (makasih banyaak). Tujuannya adalah bukan untuk menghentikan diare, karena Pocari Sweat ini minuman isotonik (bukan oralit). Saya meminumnya agar cairan dalam tubuh saya tidak habis akibat diare, karena saya takut banget kalo sampe diinfus di Mataram (ga bayangin deh kalau liburan tapi harus berakhir di rumah sakit 😦 ). Itu juga alasan kenapa saya juga menolak saat diajak untuk periksa ke dokter, hehe.

Setelah dua hari istirahat di rumah saya sudah merasa sehat. Saya melewatkan beberapa destinasi seperti Gili Trawangan dan Pura Batu Bolong. Namun sedih sekali setelah saya sehat, teman-teman yang saya yang lain (Ajis, Asrar, Rica, Reggie, Oyong, dan Alvin) harus balik ke Surabaya.

Sedih sekali rasanya kalau harus sakit saat liburan. Apalagi ini liburan ke Lombok, yang selalu saya nantikan 😦 Gagal ke Gili Trawangan berarti serasa belum ke Lombok. Jadi saya harus menabung lagi untuk dapat kembali ke sini!

Advertisements

7 thoughts on “Sakit di Lombok

  1. Novita Rosyida Hilmi says:

    waaaa, aku juga pas ke lombok juga sakit sehari semalam cuman tiduran di hotel (padahal view nya ud bagus di senggigi T.T), untungnya esoknya ud mendingan dan bisa jalan-jalan seminggu di Giliiii..hihihi.
    mungkin sebelumnya kecapean yang uda numpuk2 ya? hehehe, jdinya pas liburan tepar

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s