Pengalaman Berkeinginan Pulang Kampung

Assalamualaikum.

Pengalaman pertama merantau saya adalah setahun yang lalu saat melaksanakan kerja praktik di Jakarta. Bener-bener pengalaman pertama. Kebetulan waktu kerja praktik saya saat itu, yaitu Juni-Juli 2016, bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga itu juga merupakan pengalaman pertama saya tidak berpuasa di rumah. Hal ini memberi pelajaran baru bagi saya dimana saya (dan teman) harus mengandalkan diri sendiri untuk bangun sahur, lalu masak sahur (meskipun hanya mie goreng) atau mencari warung yang buka saat sahur, hingga untuk menu berbuka puasa. Bersyukurnya kami ternyata bisa bertahan puasa walaupun dengan kondisi seadanya tanpa adanya seorang mama di kos-kosan.

Baca juga:Β Buka Bersama di Masjid Al Madani

Ternyata derita perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Yang menjadi masalah utama adalah pulang kampung, yang mana keadaan saya, Uci dan juga Nanda (teman kos dan teman kerja praktik) belum membeli tiket untuk pulang kampung. Bahkan kami sempat pasrah untuk menetap di Jakarta selama Idul Fitri. Keresahan ini muncul karena ketika melihat harga tiket pesawat yang bikin nangis di sekitar H-2 minggu lebaran.

Bayangin, untuk sekali perjalanan kami harus merogoh kantong yang sangat dalam, bahkan saat sudah sampai di dasar kantong, uangnya pun belum cukup. Harganya kalau tidak salah saat itu sekitar Rp1.200.000,00 untuk sekali perjalanan Jakarta-Surabaya dan harga baliknya di H+6 lebaran juga beda tipis. Sehingga kalau ditotal, kami harus mengeluarkan uang sebanyak 2 jutaan untuk pulang kampung tahun.

Yang tambah bikin nangis, tiket kereta api dari yang ekonomi hingga eksekutif pun sudah ludes (Ps. tiket kereta api eksekutif lebih manusiawi ketimbang tiket pesawat). Saya dan Uci bahkan sudah mencoba-coba mencari kereta transit seperti Jkt-Bdg-Sub atau Jkt-Jog-Sub atau kemungkinan-kemungkinan lain karena Jkt-Sub sudah benar-benar habis. Tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Kami benar-benar pasrah dan sedih karena kemungkinan besar tidak akan pulang ke rumah saat lebaran.

Tapi ada pepatah yang bilang kalau β€œUsaha tak akan mengkhianati”. Beruntung sekali Uci punya saudara yang bekerja (atau pemilik ya, lupa) sebagai agen ticketing. Akhirnya Uci pun menghubungi saudaranya itu dan ada keajaiban. Ternyata ada kereta baru yang ditambah untuk mudik lebaran dan ada yang jurusan Jkt-Sub. Tapi yang tersisa tinggal yang eksekutif. Tanpa pikir panjang, kami pun membeli tiket PP Kereta Api Sembrani Lebaran (kalau tidak salah) dengan harga sekitar 600ribu per tiketnya. Kami lega sekali akhirnya bisa pulang dengan tiket yang lebih murah dari tiket pesawat. Dan kami akhirnya bisa menjalani sisa-sisa kerja praktik sebelum lebaran dengan tenang karena tiket sudah di kantong 😊

Suasana kereta saat balik ke Jakarta

Hari demi hari berlalu dan semakin mendekati hari H lebaran. Saya coba iseng-iseng kan buka Traveloka karena teman angkatan saya pernah nyeletuk kalau di hari-hari mendekati lebaran (sekitar 2-4 hari sebelum) ada tiket pesawat yang murah, hanya saja harus rebutan memang. Yang bikin nangis adalah, tiket pesawatnya seharga 400ribu. Empat ratus ribu rupiah MEN! Sebagai seorang wanita yang sudah membeli barang serupa dengan harga lebih mahal pastinya sebel dan kzl. Tapi memang dibalik kelebihan ada kekurangan sih. Bisa jadi kalau saya tidak jadi beli tiket kereta api 600ribu tadi, saya waktu itu pun tidak dapat tiket 400ribuan itu, bisa jadi karena tidak tersedia atau ludes. Atau kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa membuat gagal pulang kampung.

Baca juga:Β Bukber dan Kemacetan

Jadi menurut saya tergantung sih, mau menggantungkan nasib pada keberuntungan mendapat tiket murah di hari-hari mendekati lebaran, atau beli tiket mahal jauh-jauh hari yang penting bisa pulang kampung. Jadi sangat perlu dipertimbangkan baik-baik sih, memang banyak risikonya. Kalau saya horang kaya sih, saya memilih menggantungkan nasib. Karena meskipun nantinya tidak dapat tiket yang murah, tiket pesawat yang mahal pun tetap ada, jadi tetap bisa pulang kampung. Bahkan bisa untung banget kalau ternyata ada tiket pesawat yang murah 😊 Tapi kalau memang sudah pasrah kalau tidak pulang kampung, boleh lah mengadu nasib di hari-hari menjelang lebaran. Yang penting rajin-rajin aja cek harga tiket di Traveloka atau aplikasi ticketing lainnya. Kalau kalian di posisi seperti ini, kalian pilih yang mana? πŸ˜€

Advertisements

3 thoughts on “Pengalaman Berkeinginan Pulang Kampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s