Sebelum Marina Merantau

Assalamualaikum.

Alhamdulillah, dua hari setelah upacara wisuda, tepatnya Selasa (19/9), ada kabar baik datang dari sahabat saya, Marina. Kabar baik itu adalah dia diterima di salah satu perusahaan BUMN di Indonesia, yaitu Telkom melalui jalur GPTP prestasi. Saya lupa apa nama jalurnya, intinya adalah untuk mahasiswa berprestasi. Seleksi berkas dilakukan langsung oleh pihak kampus dan seleksi selanjutnya langsung dilakukan pihak Telkom. Selain Marina, ada juga teman saya yang diterima dengan jalur yang sama, yaitu Dea. Mereka ini memang orang-orang yang nggak kenal lelah buat berjuang dan prestasinya sampai bikin saya kagum. Yaiyalah, diri sendiri nggak berprestasi soalnya πŸ˜†

Saya nggak akan menceritakan bagaimana tepatnya prestasi mereka, apalagi bagaimana mereka berprestasi. Tapi saya ingin bercerita tentang, bisa dibilang semacam, jalan-jalan sekaligus farewell dengan Marina. Saya kenal Marina ini saat SMA, padahal kami sudah satu sekolah sejak SMP. Di SMP kami nggak pernah satu kelas, atau berada di kelas yang berdekatan, atau satu ekstrakurikuler. Mungkin ini penyebab kami nggak sedekat sekarang. Tapi semenjak SMA, saya dan dia bisa berada di kelas yang sama, belajar bersama, kadang ikut lomba bersama, dan mengambil ekstrakurikuler yang sama (Supermath). Dan mungkin inilah penyebab kami menjadi dekat. Awalnya saya juga nggak nyangka bakal satu jurusan di kuliah, karena waktu SMA kami sudah menentukan pilihan jurusan masing-masing. Saya di Statistika ITS, dan Marina di Teknik Industri ITS. Entah kenapa, seperti jodoh, tiba-tiba kami bertemu lagi di Jurusan Sistem Informasi ITS, walaupun dengan jalur yang berbeda.

Saat kuliah, Marina tetaplah menjadi Marina, yang suka dengan hal-hal ilmiah, karya ilmiah. Karena di ITS nggak ada (atau saya yang nggak tahu ya) unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang berhubungan dengan matematika (iya, saya suka matematika saat SMA), akhirnya saya kembali pada kesukaan saya yang nggak ada di SMA, yaitu jurnalistik. Di jurnalistik ini, saya banyak sekali belajar, tapi belum pernah mencoba untuk ikut lomba. Beda dengan Marina, dia dari dulu sudah suka karya ilmiah, dan di perkuliahan makin sering aja dia ikut lomba. Jadi nggak heran kalau akhirnya dia pernah memenangkan beberapa lomba dari seluruh lomba yang diikutinya. (eh kok jadi cerita bagaimana Marina berprestasi πŸ˜€ ).

Maka, saat ada peluang untuk berkarir di Telkom melalui jalur prestasi, tentunya dia ingin mencoba. Dan ternyata Allah memberikan amanah pekerjaan itu ke Marina. Saya bersyukur sekaligus sedih. Sedihnya bukan karena saya belum kerja (eh ini sedih juga sih, tapi jujur bukan karna ini), tapi saya harus berpisah sama Marina ☹

Gift card beli di Miniso

Jadi sebelum Marina berangkat (27/9), Marina, Uci, dan saya keluar untuk jalan-jalan di mal, sekaligus kumpul dalam rangka akan ditinggal merantau sama Marina. Tunjungan Plaza (TP) menjadi pilihan kami. Di TP, kami menghabiskan waktu untuk foto Onix (yang sering ke TP pasti paham), jalan-jalan, dan makan-makan. Karena saat wisuda kami ternyata belum foto bareng bertiga, akhirnya pada kesempatan kemarin, kami membawa gordon sebagai properti yang kami gunakan untuk foto. Alhasil, kami jadi punya foto bareng bertiga pakai gordon. (tetep gapunya foto pakai toga bareng).

Setelah berfoto ria, kami pergi ke Informa untuk membeli frame. Waktu itu beli frame yang langsung isi 2, dan satuan untuk kami bertiga. Frame yang satuan itu buat Marina, dan frame saya dengan Uci kembaran. Lalu kami lanjut jalan-jalan. Karena penasaran dengan TP 6 yang baru dibuka, kami mencoba ke sana. Di TP 6 kami juga penasaran dengan Miniso, jadi ada alasan tambahan buat ke TP 6. Tapi waktu itu kami malah nyasar ke TP 4. Kaki kami sudah pegel sebenernya, tapi tetep aja masih pengen cari Miniso. Akhirnya kami melihat petunjuk yang mengarahkan ke TP 6. (mohon maaf saya lupa gimana bisa sampai TP 6, tapi pokoknya dari TP 4 nanti akan ada petunjuk di atap yang bisa mengarahkan ke TP 4. Ikuti saja petunjuk itu. Atau tanya satpam aja kalau sudah putus asa πŸ˜€ ).

Sesampainya di TP 6, kami takjub banget. Kayak beda gitu. Ada beberapa spot yang photoable. Dan karena ada tempat duduknya juga, kami pun akhirnya menghabiskan beberapa menit di sana karena terlalu capek dan ingin foto-foto.

Ini Ucik

Yang ini Marina

Setelah puas dan energi sedikit kembali, kami lanjut menuju Miniso yang berada di lantai 3 TP 6. Ternyata Miniso di sini tempatnya lebih luas daripada yang ada di Grand City. Beberapa barang yang ada di Miniso TP juga tidak ada di Grand City. Tapi budayanya tetap sama, sambutan β€œSelamat datang di Miniso” serta pengecekan ulang belanjaan saat keluar dari Miniso tetap ada. Di Miniso, Uci membeli barang buat Marina. Saya di hari sebelumnya juga membeli barang di Miniso, tapi di Grand City. Dan memang kami berencana untuk memberi kenang-kenangan buat Marina.

Ternyata capek juga muter-muter ngelihatin barang-barang Miniso yang lucu dan harganya cukup terjangkau. Kami pun memutuskan untuk makan. Awalnya bingung mau makan dimana, lalu saya request mau makan Sushi πŸ˜› dan Uci menyarankan makan di Hachi-Hachi TP 4 (dekat Sogo). Sushi di sini enak sekali, dan saya puas walaupun harganya nggak terjangkau (buat saya). Untungnya waktu itu ditraktir Marina (thank you!). Untuk detilnya, mungkin akan saya tulis di post terpisah ya.

SUSHI ❀

Nah setelah selesai makan, saya dan Uci baru memberikan kenang-kenangan yang dibeli hari itu juga, selain kado pribadi dari saya. Untungnya, nggak ada drama air mata di pertemuan kami ini. Meskipun agak aneh ya, mau pisah kok nggak nangis? Tapi karena saya dan Marina barengan ke parkiran motor saat pulang, saat-saat akan bener-bener pisah (ke motor masing-masing) itu rasanya saya pengen nangis πŸ˜₯ YAH, cengengnya tetep ternyata. Air mata rasanya sudah di pelupuk dan ingin ngalir ke pipi. Untungnya masih bisa saya tahan. Dan akhirnya kami resmi berpisah. Sebenarnya saya dan Uci pengen ketemu Marina sekali lagi di Bandara Juanda. Tapi karena saya bangun kesiangan, batal deh ☹

Ternyata, meskipun ada perpisahan di setiap pertemuan, perpisahan nggak akan pernah terasa mudah. Apalagi kalau nggak terhitung banyaknya hari-hari yang sudah dilalui bersama. Tapi yang terpenting adalah, walaupun nggak bisa bertemu tatap muka, kita bertemu lewat doa dengan orang yang meninggalkan atau kita tinggalkan. Dan setidaknya ada komitmen untuk nggak melupakan satu sama lain 😊 Kalau kalian, pernah pisah dengan sahabat juga nggak? Dan kenapa pisahnya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s