Pengabdi Setan (2017)

Assalamualaikum.

Jujur aja, awal kali melihat judul film ini di aplikasi Cinema 21, saya nggak ada ketertarikan buat melihatnya. Namun ketika saya melihat cuitan dari @musasyihab (Mas Baim) yang merupakan senior saya di ITS TV, saya langsung pengen nonton. Mas Baim ini orangnya cinta sekali dengan film-film Indonesia dan selalu membuat review di akun Twitternya. Saya jarang sekali melihat dia mereview film-film luar negeri, atau saya yang kelewatan ya!? Maka ketika Mas Baim memberi review yang bagus tentang film horor Indonesia ini, saya jadi penasaran sekali.

Lalu lama-kelamaan, di timeline Twitter saya bermunculan review-review baru dari blogger yang kebanyakan juga memberikan review bagus terhadap film yang disutradarai Joko Anwar ini. Namun memang tidak semuanya, beberapa juga ada yang berkomentar bahwa film ini nggak seperti ekspektasinya atau nggak begitu menyeramkan seperti yang dikatakan orang-orang. Baiklah, karena semakin penasaran, saya dan Uci akhirnya menonton film ini di Kamis siang untung nggak malam Jumat yang panas di Surabaya, untung bioskopnya dingin πŸ˜›

Baca juga:Β Annabelle: Creation

Rating IMDb: 8.3/10 (per 8 Oktober 2017)

Sinopsis

 

Keluarga cemara Rini

Di tahun 1981 hiduplah sebuah keluarga dengan empat orang anak, yaitu Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat). Mereka tinggal di rumah nenek (Elly D. Luthan) yang terletak di tengah-tengah hutan. Yang menarik adalah, Bondi dan Ian dapat langsung melihat kuburan dari jendela kamarnya (duh rumah nenek ini serem amat ya, udah di pelosok hutan, deket kuburan pula). Keluarga ini sepertinya bukanlah keluarga yang serba kecukupan. Meski si Ibu (Ayu Laksmi) dulunya adalah seorang penyanyi, namun royaltinya sudah berhenti karena si Ibu menderita sakit selama 3 tahun sehingga sudah nggak aktif maupun produksi lagu lagi. Kondisi keuangan keluarga sudah sangat menipis, rumahpun sudah digadaikan untuk kebutuhan pengobatan ibu. Hingga suatu malam, Rini melihat ibunya meninggal dunia.

Pemakaman Ibu

Pemakaman pun dilakukan di kuburan dekat rumah mereka. Tak lama setelah pemakaman, AyahΒ  (Bront Palarae) memutuskan pergi ke kota untuk mencari uang. Mau tak mau, dia harus mencari uang karena rumah mereka sudah digadaikan. Setelah ditinggal Ayah, rumah tersebut sering mengalami kejadian-kejadian aneh dan menyeramkan. Mulai dari Tony yang mendengar suara lonceng ibu di malam hari, hingga si nenek yang tiba-tiba meninggal di sumur. Mereka mengira bahwa kejadian itu adalah ulah arwah ibunya.

Hendra (Dimas Aditya), anak Pak Ustadz (Arswendi Nasution), juga turut merasakan kejadian aneh di rumah keluarga Rini. Dia yang membantu saat pemakaman almh. Ibu Rini, mengaku melihat sesosok perempuan yang menyerupai almh. datang saat pemakaman berlangsung. Tak hanya itu, dia juga melihat sosok tersebut di rumah keluarga Rini di siang bolong. Tapi Rini masih nggak memikirkan hal itu secara serius. Hingga suatu hari Rini menemukan surat nenek yang ditujukan untuk temannya, yaitu Budiman (Egy Fedly). Mungkin ini seperti jalan menuju cahaya, menuntun para tokoh untuk menemukan jawaban akan kejadian aneh di rumahnya.

Akhirnya, Rini mengantarkan surat itu kepada Budiman. Rini juga ingin mencari tahu sesuatu, yang mungkin ada kaitannya dengan kejadian aneh di rumah sepeninggal ibunya. Dengan ditemani Hendra, Rini berangkat ke kota untuk menemui Budiman. Setelah bertemu Budiman, Rini menemukan jawaban atas kejadian itu, walaupun dia sendiri masih agak menyangkalnya. Ternyata kejadian aneh tersebut memang berakar dari masa lalu ibunya yang dilakukan untuk memperoleh keturunan. Pada saat itu, si ibu bergabung dengan kelompok yang mengabdi dan memohon agar dikaruniai anak pada setan. Lalu apa sebenernya yang diinginkan mereka sepeninggal Ibunya Rini? Tonton sendiri ya! πŸ˜€

Review

Dari segi cerita, film ini saya rasa cukup keren. Kenapa keren? Karena menurut saya ceritanya nggak gampang ketebak. Bahkan setelah penonton tahu apa yang diinginkan oleh sekte pemuja setan ini, tiba-tiba aja berubah menjelang akhir film. Ini rasanya seperti PHP. Nggak kerasa banget bakal kayak gini karena filmnya juga sudah mengarah pada upaya pencegahan kejadian yang diinginkan sekte itu. Selain itu, film ini menurut saya juga nggak ada unsur-unsur mencontek film horor lain. Atau mungkin referensi film horor saya kurang ya? πŸ˜› Tapi sejauh film horor yang saya tonton, saya nggak nemu kemiripan di film ini. Nggak seperti film Danur (ada unsur film Insidious) yang telah saya tonton.

Yang membuat ceritanya agak kurang adalah film ini membuat penonton bertanya-tanya. Seperti ibu ini sakit apa? Atau siapa nama bapak serta pak ustadz dan juga nenek? Atau kenapa Pak Ustadznya kayak gitu dan… perannya gitu doang? Yah… at least ini pertanyaan-pertanyaan dari saya pribadi sih. Bagian ending (penyelesaian konflik) dari ceritanya juga menurut saya, kok gitu? Agak memaksakan menurut saya. Kayak, kenapa si orang berambut gondrong (yang sudah nonton tau lah ya maksud saya siapa) tiba-tiba muncul? Darimana? Ada firasat? Tapi mungkin bagi beberapa orang suka ending yang seperti itu.

Meski gitu, menurut saya unsur horornya dapet banget, nggak hanya ngagetin, tapi juga bisa menimbulkan suasana mencekam. Mungkin karena saya orangnya penakut juga kali ya. Tapi emang kebanyakan adegannya itu nggak ketebak. Semuanya nyeremin, tapi bagian paling serem menurut saya adalah (spoiler gapapa ya ☹ maapkeun) saat salat. Oh iya, ada kejadian lucu di teater yang kami (penonton) gunakan saat itu. Jadi ceritanya waktu adegan (duh spoiler lagi gapapa ya ☹) Ian ketakutan dengan foto ibunya di lorong, penonton seteater ini antara kaget tapi juga menganggap itu lucu. It was like, ”Whoaa”, β€œWooo”, β€œWhat is thaaat” Hahahaha! Seisi teater jadi rame dan beberapa ada yang ketawa. Saya sendiri sudah nutup mata ketakutan tapi sambil ketawa-ketawa πŸ˜†

Yang juga saya suka dari film ini adalah unsur-unsur komedi yang diberikan, bahkan setelah adegan serem. Apalagi yang bikin lucu itu si Bondi dan Ian. Bikin gemezz banget dua anak ini. Unsur-unsur komedi ini terasa natural sekali karena diperankan oleh si bungsu Ian yang menggemaskan.

Rini serem juga euy!

Dari segi penokohan, sudah nggak perlu diragukan ya akting-akting dari para pemainnya. Namun saya kurang merasakan peran dari Pak Ustadz sebagai β€œustadz”. Mungkin ini sekaligus jadi nilai plus karena membuat film ini berbeda dengan film-film horor yang mengandalkan agama. Lalu saya juga apresiasi dengan kehadiran tokoh Ian yang merupakan anak tunarungu, mereka jadi belajar juga cara berinteraksi dengan orang yang punya kelemahan pada telinga dan bicaranya.

Untuk unsur-unsur pendukung film, seperti properti, sangat pas dengan suasana jaman dulu. Ada lampu oblek (bener nggak nih namanya?), kompor minyak (yang masih pakai sumbu itu), radio kotak, tidak ada HP, sumber air dari sumur, pemutar musik dengan piringan hitam, dan lagunya yang sangat kerasa jaman dulu banget. Dari segi penampilan tokoh juga cukup menunjukkan bahwa setting waktu film ini tahun 80’an. Hanya saja penampilan bapak ini yang terlihat masih kekinian, apalagi saat pemakaman ibu.

Saya pribadi dapat mengambil beberapa pelajaran dari film ini.

  • Yang pasti, nggak usalah jadi pengabdi setan.
  • Tinggal di tengah hutan, dekat kuburan, dan sumur yang menyatu di rumah, adalah ide buruk. Hahahaha, so seram! Setidaknya sumurnya di luar rumah lah ☹ Jadi kalau ke kamar mandi nggak perlu lihat sumur.
  • Sesama saudara harus saling menyanyangi ya.
  • Punya rambut panjang dan cukup tebal adalah niatan yang buruk.
  • Seseorang dengan penampilan yang menyeramkan nggak selalu memiliki pribadi yang menyeramkan juga. Ini diambil dari penampilan Budiman. Berlaku juga sebaliknya.

Baca juga:Β The Doll 2: Ketika Kebahagiaan Hilang dari Keluarga Kecil Aldo

Secara keseluruhan, film ini menurut saya bagus. Film horor yang masih dipadukan dengan unsur komedi menurut saya itu oke banget, bisa mengurangi ketegangan para penonton. Dan unsur komedinya pun tidak membuat lupa kalau ini film horor. Porsinya pas. Sinematografinya juga bagus banget, jadi terlihat kalau krunya pro (dan sutradaranya oke parah). Oleh karena itu, saya turut merekomendasikan film ini untuk ditonton! Bukan karena emang lagi hype, tapi emang menurut saya filmnya bagus dan layak tonton. Tak heran juga kalau film yang tergolong baru ini sudah menyabet beberapa nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Tapi film ini rasanya kurang cocok untuk ditonton anak kecil, meskipun tidak ada hal-hal yang vulgar. Btw, beberapa film horor Indonesia yang saya lihat akhir-akhir ini menurut saya bagus-bagus. Mungkin industri film horor Indonesia mulai menapak naik lagi ya. Semoga Indonesia bisa selalu memberikan film-film yang bagus seperti ini 😊

Baca juga:Β Pengabdi Setan (1980)

Rate versi saya: 8/10

Advertisements

16 thoughts on “Pengabdi Setan (2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s